PERAN PENELITIAN DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KULIT NASIONAL

Yuny Erwanto

Abstract


Pada dasarnya persoalan utama yang dihadapi Indonesia saat ini adalahrendahnya hasil riset dan teknologi dalam negeri yang diadopsi oleh industri ataupengguna teknologi lainnya. Industri seharusnya mengikuti inovasi yang dilakukanberdasarkan research and development yang dihasilkan tim peneliti secara mandirimaupun hasil kerjasama dengan peneliti dari berbagai lembaga penelitian. Pada kenyataannya industri lebih suka mengimpor teknologi, alat dan bahkan dalambeberapa hal termasuk mengimpor sumberdaya manusia. Kapasitas lembaga pengembang teknologi ndonesia cukup baik, terbukti dengan posisi indeks inovasiIndonesia dalam peringkat World Economic Forum (WEF) tahun 2015 yang beradapada posisi ke-33 dari 140 negara. Kemampuan inovasi Indonesia saat inisebenarnya sudah setara dengan negara-negara yang perekonomiannya sudahberbasis inovasi. Berdasarkan survei WEF tersebut, dilaporkan bahwa kapasitaspengembangan inovasi ternyata belum diimbangi dengan kesiapan pengembangan teknologi dan kapasitas untuk adopsinya, terbukti dengan peringkat kesiapanteknologi (technological readiness) yang masih relatif rendah, yakni pada peringkatke-85 dari 140 negara pada tahun 2015. WEF juga memuat data peringkat Indonesiaberdasarkan indeks daya saing global/Global Competetiveness Index (GCI) padatahun 2015/2016 berada pada posisi 37 turun 3 peringkat dibanding tahunsebelumnya. Oleh karena itu, pengembangan inovasi seharusnya diimbangi denganpengembangan teknologi (technological readiness) yang kemudian meningkatkandaya saing nasional. Data WEF mencatat indikator kinerja kerjasama riset antarauniversitas dengan industri untuk mengukur peringkat daya saing ini. Berdasarkanindikator kinerja kerjasama riset antara universitas dengan industri, pada tahun 2015ini Indonesia meningkat 8 tingkat dibandingkan dengan tahun 2010, yaitu dariperingkat 38 menjadi peringkat 30. Namun data-data yang membuat inovasiresearch yang menghasilkan teknologi yang dapat diadopsi oleh industri masihbelum menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Hal tersebut terbukti dengansangat sedikitnya hasil riset lembaga penelitian maupun perguruan tinggi yangdigunakan industri. Berdasarkan pemetaan riset yang dilakukan oleh BPPT

persentase riset industri baru mencapai 3% maka upaya peningkatan kerjasama risetantara lembaga penelitian dengan industri menjadi sangat mendesak agar anggaranyang digunakan baik dari pemerintah maupun dari industri semakin bermanfaat.Penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan daya saing bangsa menjadisangat mendasar bagi Indonesia. Untuk itu pengembangan penelitian terapanberbasis inovasi teknologi yang dibutuhkan pasar adalah konsep keharusan yangperlu dilakukan untuk penelitian-penelitian lembaga riset termasuk lembaga riset dibawah kementerian teknis seperti Kementerian Perindustrian yang punya kedekatanhubungan dengan dunia usaha. Kerjasama riset yang dimaksud bukan bersifatformal administratif namun harapannya adalah subtansif-kolaboratif yang akanmenghasilkan inovasi yang membumi dan berdaya saing nasional maupuninternasional untuk memajukan industri kulit nasional.

Kata kunci : penelitian, kolaborasi, solusi, industri kulit nasional


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


View My Stats