PENGGUNAAN GELATIN UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT

Sugihartono Sugihartono, Sri Sutyasmi, Dona Rahmawati, Suyatini Suyatini

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan gelatin sebagai flokulan dalam proses pengolahan limbah cair industri penyamakan kulit. Pengolahan limbah cair dilakukan dengan menggunakan gelatin hasil hidrolisis trimming kulit pikel domba menggunakan NaOH dan KOH menggunakan dosis berturut- turut: 0,02., 0,04., 0,06., 0,08., dan 0,1 % berat per volume limbah yang diolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gelatin dapat digunakan sebagai bahan pengolah limbah cair industri penyamakan kulit. Gelatin mampu mengurangi kandungan COD, kekeruhan, krom total, dan TDS limbah cair industri penyamakan kulit. Gelatin hasil hidrolisis dengan NaOH dosis aplikasi 0, 1% menghasilkan limbah terolah dengan penurunan kekeruhan tertinggi yaitu sebesar 90,49%. Sedangkan gelatin hasil hidrolisis dengan KOH dosis aplikasi 0,06% menghasilkan limbah terolah dengan tingkat penurunan COD dan krom total tertinggi yaitu masing-masing sebesar 67,42% dan 79,26%, serta pada dosis 0,08% juga menghasilkan persentase adsorbsi polutan pada limbah tertinggi, yaitu sebesar 17,99%.

 

Kata kunci:   gelatin, flokulan, limbah cair, pengolahan, penyamakan kulit.


Full Text:

PDF

References


Barus, T. A. (2015). Faktor-Faktor Lingkungan Abiotik dan Keanekaragaman Plankton sebagai Indikator Kualitas Perairan Danau Toba. Jurnal Manusia dan Lingkungan, 11(2): 64-72.

BSN (Badan Standardisasi Nasiional). (2009). Standard Nasional Indonesia SNI 6989.17:2009 : Air dan Air limbah - Bagian 17: Cara uji krom total (Cr-T) secara spektrofotometri serapan atom (SSA)-nyala. Jakarta, Indonesia:BSN.

BSN (Badan Standardisasi Nasiional). (2009). Standard Nasional Indonesia SNI 06-6989. 73-2009. Air dan air limbahBagian 73 : Cara Uji kebutuhan oksigen kimiawi (Chemical Oxygen Demand /COD) dengan refluks tertutup secara titrimetri. Jakarta, Indonesia: BSN.

BSN (Badan Standardisasi Nasiional). (2005). Standard Nasional Indonesia SNI 06-6989. 27-2005. Air dan air limbahBagian 27 : Cara uji kadar padatan terlarut total secara gravimetri Jakarta, Indonesia: BSN.

Dargo, H., and Ayalew, A. (2014). Tannery waste water treatment : A review. International Journal of Emerging Trends in Science and Technology, 01(09): 1488-1494.

Fathima, N., Rao, R., & Nair, B.U. (2012). Tannery solid waste to treat toxic liquid wastes : A new holistic paradigm. Environmental Engineering Science, 29(6): 363-372.

Giacinta, M., Salimin, Z., & Junaidi. (2013). Pengolahan logam berat krom (Cr) pada limbah cair industri penyamakan kulit dengan proses koagulasi dan presipitasi. Jurnal Teknik Lingkungan, 2(2): 1–8.

GMIA. (2012). Gelatin Handbook. Gelatin Manufacturers Institute of America, Inc., New York, NY.

Hashem, Md.A., Arefin, Md.S., & Ahmed, M. (2014). Estimation and environmental effect of tannery effluent from wet salted goat skin in beam house operation: Bangladesh perspective. International Journal of Environment, 4(2): 39-45.

Li., R., Liao., X., He., Q., & Shi, B. (2013). Collagen - Based Flocculant Prepared Solid Leather Waste. In Proceding XXXII. Congres of UILTCS. May 29th – 31th 2013. Istambul,Turkey.

Menteri Negara Lingkungan Hidup. (2014). Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup. Nomor 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah. Baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan industri penyamakan kulit. Jakarta.

Piazza., G. J., & Garcia, R. A. (2010). Protein and petides as renewable flocculants. Bioresource Technology, 101: 5759–5766.

Rahmawati, D., Sugihartono, dan Sutyasmi, S.. (2016). Pemanfaatan limbah trimming kulit pikel sebagai sumber gelatin tipe B melalui pencucian menggunakan drum berputar. Paper di submit ke Jurnal Riset Teknologi Industri Samarinda.

Senthil, R., Hemalatha, T., Manikandan, R., Das, B.N., & Sastry, T.P. (2015). Leather board from buffing dust : a novel perspective. Clean Technologies and Environmental Policy, 17(2): 571-576.

Sugihartono. 2014. Kajian gelatin dari kulit sapi limbah sebagai renewable flocculants untuk proses pengolahan air. Jurnal Riset Industri, 8(3): 179-189.

Sugihartono, S., Sutyasmi, S., & Prayitno, P. (2015). Pemanfaatan trimming kulit pikel sebagai flokulan melalui hidrolisis kolagen menggunakan basa untuk penjernihan air. Majalah Kulit, Karet, Dan Plastik, 31(1): 37. http://doi.org/10.20543/mkkp.v31i1.221

Sugihartono. (2016). Pemisahan krom pada limbah cair industri penyamakan kulit menggunakan gelatin dan flokulan anorganik. Majalah Kulit, Karet, Dan Plastik, 32(1):21-30. http://dx.doi.org/10.20543/mkkp.v32i1.900

Syaiful, A., Intan, Jn. A., & Andriawan. (2014). Efektivitas alum dari kaleng minuman bekas sebagai koagulan untuk penjernihan air. Jurnal Teknik Kimia, 4(20): 39-45.

Valentina, A. E., Miswadi, S. S., & Latifah, L. (2013). Pemanfaatan arang enceng gondok dalam menurunkan kekeruhan, COD, BOD pada air sumur. Indonesian Journal of Chemical Science, 2(2): 84-89.

Zeenat, M. A., Mughal, M. A., Laghari, A. J., Ansari, A. K., & Saleem, H. 2013. Polymeric Cellulose Derivative: Carboxymethyl-Cellulose as Useful Organic Flocculant Against Industrial Wastewater. International Journal of

Advancements in Research & Technology 2(8): 14 – 20.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


View My Stats